Thursday, July 7, 2016

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Barangkali, kita memang hidup dalam panggung kepura-puraan. Ada banyak hal yang tertahan, untuk tetap menjadi rahasia yang tak terungkap oleh rangkai-rangkai aksara. Dan kita baik-baik saja menjalaninya. Kita hidup dengan wajar demi menunggu untuk beradu di ruang temu. Namun, tunggu dulu, adakah kita, merahasiakan hal yang sama?

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu


Ada doa-doa yang tak pernah berhenti dilangitkan. Juga tanda tanya yang tak terakumulasi banyaknya. Kita tak pernah tahu kapan semua itu membawakan sebuah jawaban. Hingga jiwa lelah, hingga langkah payah, dan semuanya habis sudah. Diam-diam, kita mengakui bahwa ada benih-benih keraguan yang mulai merapuhkan. Apa yang sebenarnya kau cari? Kucari?

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon berbunga itu 

Baik kau maupun aku, sama mengakui bahwa di antara kita, menjulang tinggi pohon yang dahulu begitu ingin kita rubuhkan. Kita penasaran kepada apa yang bisa kita terjemahkan saat pada akhirnya pandangan kita bertemu dan saling mengunci. Namun, lupakan saja. Biarkan pohon itu tetap berdiri kokoh dan terus berbunga, menjadi pembatas yang jelas, menyimpan apa yang masing-masing kita rahasiakan, tak terucapkan.



0 comments:

Post a Comment

Silakan Tulis Nama Anda